Ke Brunei Darussalam #4

Posted on Updated on

wpid-bulan-sabit.jpeg

Subuh…
Hari pertama puasa ramadhan.

Aku mulai perjalananku melalui jalur darat dari Pontianak menuju Brunei.

Makan sahur hari itu terasa istimewa walau dengan menu seadanya, mie goreng instan dan mackarel kalengan.
Sampai sekarang sudah berkali-kali kucoba kombinasi menu yang sama tetapi selalu kudapatkan rasa yang berbeda.
Entah karena tangan yang memasaknya, entah karena ketegangan otakku menjadikannya sensasi yang berbeda,entah juga karena kesedihan yang menggelayuti hatiku.
Entahlah..

Alasan kami berangkat subuh, selain karena jarak Pontianak ke Entikong, kota perbatasan Indonesia-Malaysia, cukup jauh,juga untuk menghindari banyaknya pungutan liar sepanjang perjalanan, demikian kata sopir yang membawa kami.
Memang kendaraan yang mengangkut TKI biasanya menjadi sasaran empuk bagi beberapa oknum tertentu untuk dimintai ‘uang jalan’.

Tak banyak yang dapat kuingat saat meninggalkan kota Pontianak,selain suasana masih gelap, aku juga lebih sibuk menyesuaikan diri mencari kenyamanan.
Bayangkan, minibus dengan kapasitas maksimal 7 orang dipaksa dimuati 11 orang, belum lagi muatan barang-barang bawaan kami semua, terpaksa kami berhimpit-himpitan, seperti mackarel kalengan.

Memasuki kota Sanggau keadaan mulai terang, dapat kulihat pembenahan dilakukan dimana-mana, kantor bupati baru pun sedang mulai dibangun.
Memang jalur Pontianak-Sanggau-Entikong merupakan jalur keluar masuk baru bagi TKI dari atau ke Malaysia.Jalur sebelumnya melewati Singkawang,namun jalur tersebut secara resmi telah ditutup.

Selepas kota Sanggau pemandangan kanan kiri jalan di dominasi lanskap hutan hujan,dan sang sopir mewanti-wanti, jangan kaget bila nanti akan ada banyak ular melintasi jalan saat masuk ke perkebunan sawit.
Aku yang sedari awal sudah was-was,khawatir dengan imbas dari konflik antar etnis yang terjadi di Sampit ( konflik yang tidak seharusnya terjadi di negeri ini ), ditambah lagi dengan cerita ular, keteganganku pun kian menjadi-jadi.

Advertisements

New Energy

Posted on

Ternyata sudah 3 tahun yg lalu terakhir aku menulis di blog ini.Terkadang waktu serasa berlari terlalu cepat,bila kehidupan ini dipenuhi oleh gejolak,tiap saat kita akan bertemu tantangan hidup baru yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya.Dan waktu akan tetap berlari mengikuti iramanya sendiri,tanpa peduli problema apa yang sedang kita hadapi.

Dan kesadaranku akan egoisme sang waktulah yg memberi tenaga baru bagiku untuk kembali menyelesaikan apa yang sudah kumulai.
Sebelum tubuh ini lelah bergerak,sebelum benak ini tertimbun tantangan dan hal baru,sehingga semua kenangan yang ada akan hilang.
Berlari bersama sang waktu..

Ke Brunei Darussalam # 3

Posted on

Jadi ingat adegan saat Ben Affleck menyanyikan lagu Leaving on The Jetplane-nya John Denver dalam film Armageddon,mungkin seperti itulah visualisasiku setiba di bandara Sukarno Hatta.

Tadinya kupikir sama saja antara bandara dengan terminal bus,hanya beda kendaraannya saja,ternyata mau naik pesawat ribet banget.Aku mesti jalan kaki hampir 300 meter jauhnya untuk sampai ke pesawat,melewati berbagai tempat pemeriksaan,mulai dari pemeriksaan tiket,kepabeanan,sampai harus disinar X segala,ujung-ujungnya gunting kuku dan minyak korek Zippo-ku disita,karena dianggap dapat membahayakan penerbangan.Haduh….

Dalam pesawat,interiornya tidak terlalu fantastis ,sama saja seperti yang ditayangkan di film-film.Yang agak unik ialah saat mau lepas landas,seorang pramugari yang cukup cantik memperagakan cara-cara memakai sabuk pengaman,plastik kresek kalau mabuk udara sampai selang oksigen bila ada keadaan darurat.Aku lihat sekelilingku,hampir semua penumpang sibuk sendiri,tidak memperhatikan apa yang diperagakan oleh sang pramugari,entah bagaimana perasaan pramugari itu melihat respon dari para penumpang yang cuek begitu.

Saat tinggal landas adalah saat yang paling menegangkan,Pesawat digeber habis sama sang pilot,sampai suaranya mesinnya berisik sekali,badan pesawat juga terguncang-guncang saat mau mencapai ketinggian.Tanpa sadar aku berpegangan erat sekali pada kursi yang kududuki.Takut kalau jatuh.

Saat mencapai ketinggian dan badan pesawat sudah tenang,inilah saat yang terindah,karena sensasi yang luar biasa melihat daratan menjauh dari kita dan bisa berada diantara gumpalan awan.Leherku sampai sakit karena kelamaan nengok keluar jendela.

Waktu mau mendarat adalah saat yang menyakitkan buatku karena gendang telingaku terasa sakit sekali seperti ditusuk-tusuk.Orang bilang ini terjadi karena perubahan tekanan udara yang drastis dalam waktu yang singkat.Sampai sekarang aku belum bisa melupakan rasa sakit itu.

Setelah perjalanan kurang lebih 1 jam sampailah aku di bandara Supadio Pontianak.Agak mengherankan juga,letaknya di Kalimantan,tetapi kenapa nama bandara ini malahan berbau jawa.Turun dari pesawat aku sudah langsung dijemput oleh agen travel yang sudah diatur oleh agen di Jakarta,jadi aku tidak bingung walau sampai di Pontianak malam.Akhirnya aku diantar ke penampungan (kok penampungan..?)

Akankah ada  teror di belantara Kalimantan?

Ke Brunei Darussalam #2

Posted on

Setiba di stasiun Jatinegara,aku dibuat terkejut-kejut dengan lautan manusia yang memenuhi tempat tersebut.Tidak sesuai dengan kesan yang coba ditampilkan oleh Ismail Marzuki dalam lagu “Juwita Malam” yang diaransemen ulang oleh Slank,suasana romantisnya tidak terasa sama sekali.Sesak dan buru-buru,itulah kesan yang ada.Apalagi di pasarnya,hampir-hampir tidak ada ruang kosong,di semua tempat penuh dengan manusia.

Kedatanganku di Jakarta selain transit,adalah untuk mengurus visa dan medical check up sebagai bagian dari persyaratan masuk ke Brunei.Setiba di kedutaan besar kerajaan Brunei Darussalam,aku dihentikan oleh security saat mau masuk ke pintu gerbang,ditanya macam-macam,diperiksa dan diminta menunjukan dan ninggal KTP,bukan karena tampangku mirip teroris,tapi karena aku memasuki negara lain.Jadi ingat pelajaran Tata Negara dari Pak Pandoyo,katanya kedutaan besar merupakan “ekstra teritorial”.

Setelah selesai dengan urusan keamanan,saatnya menghadapi urusan birokrasi…(nervous).Di dalam sudah ada beberapa orang yang juga punya kepentingan yang sama denganku,mereka membawa banyak berkas TKI.Ternyata tidak semua orang yang mau masuk ke negara lain,mengurus sendiri perijinanya seperti aku,tetapi dilimpahkan kepada pihak lain.Tercium aroma eksploitasi TKI yang sangat tajam dalam ruangan ini.

Permohonan visaku ternyata harus menunggu 3 hari,padahal besok jadwal penerbanganku,aku coba meminta prosesnya dipercepat,tetapi tetap tidak bisa.Setelah ‘eyel-eyelan’,akhirnya aku diberi ijin masuk ke Brunei dengan status “social visit”.Status itu merupakan kesepakatan bilateral diantara negara-negara Asean,yang mengijinkan penduduknya masuk ke negara anggota tanpa harus memakai visa.

Tinggal menuju ketegangan baru…yaitu naik pesawat terbang!

Ke Brunei Darussalam

Posted on Updated on

Sesuatu yang menggairahkan dan mendebarkan saat memulai perjalanan atau lebih tepatnya disebut petualanganku ke negara yang pemimpinnya adalah salah satu orang terkaya di dunia.

Kusebut petualangan karena disana aku menemui banyak hal yang jauh sekali berbeda dari apa yang aku bayangkan.Inilah pertama kalinya aku ke Jakarta,setelah aku dewasa,inilah pertama kalinya juga aku naik pesawat terbang,dan pertama kalinya juga aku pergi ke luar negeri,walau secara geografis aku hanya pergi ke Kalimantan.

Diawali dengan naik kereta api dari stasiun Klaten,kumulai perjalananku ke Brunei yang hampir 1,5 tahun akan aku jelajahi dengan banyak cerita,mulai dari keadaan para TKI disana dan bagaimana trik mereka bertahan hidup,sampai sistem dan cara pandang penduduk Brunei maupun penduduk Malaysia terhadap keberadaan para TKI tersebut.